Header Ads Widget


 

IDUL FITRI : Momentum Transformasi - Syayathin Dilepas, Dzikirullah Dipertegas


Tuan M Yoserizal Saragih, M.I.Kom

بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
Risalah Fitrah

IDUL FITRI: Momentum Transformasi – Syayathin Dilepas, Dzikirullah Dipertegas
Oleh : Tuan M. Yoserizal Saragih, M.I.Kom

Hari Idul Fitri adalah momen yang paling ditunggu umat Islam setelah sebulan berpuasa. Idul Fitri tidak hanya sebagai perayaan kemenangan, tetapi juga sebagai kesempatan bagi umat Islam untuk melakukan transformasi spiritual yang mendalam. Dalam konteks ini, sangat penting bagi kita untuk mempertegas kembali amalan-amalan dzikir kepada Allah SWT. Dalam momen yang penuh berkah ini, dzikir menjadi jembatan yang menghubungkan umat dengan Ilahi, serta memperkuat iman dan ketaqwaan.

Pandangan Ulama' Imam Besar Masjid Istiqlal Menteri Agama RI Almukaram Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, dalam berbagai kesempatan menekankan bahwa Idul Fitri adalah momen refleksi dan transformasi spiritual, serta menekankan pentingnya umat Islam untuk memperbanyak dzikirullah, terutama setelah berpuasa selama bulan Ramadhan.

Mengutip dalam tausiyahnya Almukaram Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, MA: "Idul Fitri" adalah momen untuk memperbaharui komitmen kita terhadap Allah SWT. Setelah Ramadhan, kita harus memperkuat ketakwaan melalui dzikir dan kembali mendekatkan diri kepada-Nya.
Sumber: Kementerian Agama RI, kemenag.go.id

Pandangan Ulama Muktabar

1. Imam al-Ghazali Ihya' Ulum al-Din
Imam al-Ghazali dalam bukunya Ihya' Ulum al-Din mengajarkan bahwa dzikir adalah inti dari kehidupan seorang Muslim yang ingin mendekatkan dirinya kepada Allah SWT. Beliau menekankan bahwa dzikirullah akan membawa ketenangan hati dan mengusir segala godaan dari syetan. Beliau berkata:
"الدِّكْرُ شِفَاءُ الْقُلُوبِ، وَنُورُ الْمُؤْمِنِينَ"
Dzikir adalah obat bagi hati dan cahaya bagi orang-orang beriman.
-Ihya' Ulum al-Din, Bab Dzikir-

2. Ibn Qayyim al-Jawziyya al-Wabil al-Sayyib
Ibn Qayyim al-Jawziyya dalam karyanya al-Wabil al-Sayyib menjelaskan bahwa dzikir adalah amalan yang melindungi hati dari syetan dan penyakit jiwa. Beliau menyatakan:
"الذِّكْرُ جَلْبٌ لِلرَّحْمَةِ، وَدَفْعٌ لِلشَّرِّ وَالشَّيَاطِينَ"
Dzikir adalah pengundang rahmat dan penghalau keburukan serta syetan.
-al-Wabil al-Sayyib-

3. Ibn Taimiyyah al-Majmu' al-Fatawa
Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah dalam al-Majmu' al-Fatawa menyebutkan bahwa dzikir adalah sarana untuk menguatkan jiwa dan mencegah syetan menguasai hati. Beliau mengatakan:
"الدِّكْرُ حِصْنٌ لِلْقَلْبِ وَسِتَارٌ مِنْهُ لِلشَّيَاطِينَ"
Dzikir adalah benteng bagi hati dan pelindung dari syetan.
-al-Majmu' al-Fatawa-

Konteks Idul Fitri

Idul Fitri adalah waktu yang penuh berkah, di mana setelah sebulan berpuasa, umat Islam merayakan kemenangan. Seiring dengan dilepaskannya syetan, umat Islam diberikan kesempatan untuk mempertegas kembali hubungan mereka dengan Allah melalui dzikirullah. Ini adalah waktu yang tepat untuk memperbaharui tekad dalam menjalankan perintah-Nya. Hal ini sesuai dengan Al-Qur'an dalam Surah Al-Ahzab ayat 41:

"يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ذُكُرُوا اللَّـهَ ذِكْرًا كَثِيرًا"
Artinya:
Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya.

Rasulullah SAW juga bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Sahih Muslim:
"مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّـهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ"
Artinya:
Barang siapa yang mengucapkan Subhanallah wa bihamdih seratus kali dalam sehari, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang. HR. Muslim

Kesimpulan

Momentum Idul Fitri adalah waktu yang penuh berkah dan menjadi momentum bagi umat Islam untuk melakukan transformasi spiritual. Dengan memperbanyak dzikirullah, umat Islam dapat memperkuat hubungan mereka dengan Allah SWT, serta menjaga hati dari gangguan syetan. Sebagaimana yang ditausiyahkan oleh Menteri Agama RI Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, Idul Fitri harus dijadikan sebagai titik balik untuk memperbaharui tekad dalam menjalankan ajaran agama.

Dzikirullah bukan hanya amalan rutin, tetapi juga cara untuk menjaga spiritualitas kita tetap hidup dan menjaga hati agar tetap bersih dari pengaruh negatif. Dalam perspektif ulama besar seperti Imam al-Ghazali, Ibn Qayyim al-Jawziyya, dan Ibn Taimiyyah, dzikirullah adalah cara yang efektif untuk menghalau syetan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ، وَمِنْ سَائِرِ الْمُسْلِمِينَ، وَجَعَلَنَا مِنْ عُتَقَائِهِ مِنَ النَّارِ، آمِينَ.

Selamat Idul Fitri 1446 H. Taqabbalallahu minna wa minkum. Semoga Allah menerima amal ibadah kita semua.

Penulis adalah Wakil Dekan 3 Fakultas Ilmu Sosial UIN Sumut

صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّد صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Posting Komentar

0 Komentar