Header Ads Widget


 

RISALAH IDUL FITRI: PERSPEKTIF TARIKH, FIQH, TASAWUF, TAUHID, DAN KOMUNIKASI ISLAM


Alm. Kyai H. Salahuddin Wahid ( Gus Solah), Syeikh Ali Akbar Marbun, Tuan M Yoserizal Saragih

بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

RISALAH IDUL FITRI: PERSPEKTIF TARIKH, FIQH, TASAWUF, TAUHID, DAN KOMUNIKASI ISLAM
Oleh : Tuan M.Yoserizal Saragih, M.I.Kom (Wakil Dekan 3 Fakultas Ilmu Sosial UIN Sumut)

Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada umat Islam sehingga kita dapat kembali merayakan hari yang agung, Idul Fitri 1446 H. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beserta keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga akhir zaman.

Tarikh Idul Fitri di Masa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam

Idul Fitri merupakan hari raya yang pertama kali disyariatkan kepada umat Islam setelah hijrah ke Madinah. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud:

عن أنسٍ قالَ قَدِمَ رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ المدينةَ ولهم يومانِ يلعبونَ فيهما فقال ما هذانِ اليومانِ قالوا كنا نلعبُ فيهما في الجاهليةِ فقال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ إنَّ اللهَ قد أبدلَكم بهما خيرًا منهما يومَ الأضحى ويومَ الفطرِ

Artinya:
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: "Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam datang ke Madinah, dan mereka memiliki dua hari yang biasa mereka rayakan pada masa Jahiliyyah. Maka Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya Allah telah mengganti untuk kalian dua hari tersebut dengan dua hari yang lebih baik, yaitu hari Idul Adha dan Idul Fitri.
HR. Abu Dawud

Momentum ini tidak hanya mengganti tradisi jahiliyah, namun menanamkan nilai keimanan, kesyukuran, dan persaudaraan yang kokoh.

Perspektif Fiqh tentang Idul Fitri

Dalam perspektif fiqh, Idul Fitri adalah hari di mana umat Islam dilarang berpuasa dan disunnahkan untuk melaksanakan shalat Id. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya:
Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. QS. Al-Baqarah: 185

Para fuqaha sepakat bahwa shalat Id adalah sunnah muakkadah bagi laki-laki dan perempuan, dan pada hari itu pula ditunaikan zakat fitrah sebagai penyempurna ibadah Ramadhan. Hadits Nabi Muhammad SAW :

فرض رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ زكاةَ الفطرِ طُهرةً للصائمِ من اللغوِ والرَّفثِ وطُعمةً للمساكينِ

Artinya:
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mewajibkan zakat fitrah sebagai penyucian bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan kata-kata kotor serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin.
HR. Abu Dawud

Perspektif Tasawuf: Hakikat Idul Fitri

Ulama tasawuf memandang Idul Fitri sebagai momentum kembali kepada fitrah, yaitu kesucian hati. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

فِطْرَةَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا

Artinya:
(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.QS. Ar-Rum: 30

Imam Al-Ghazali rahimahullah menjelaskan bahwa makna Idul Fitri adalah "kembali kepada kesucian diri, keikhlasan amal, serta melepas diri dari segala karat dosa yang mengotori qalbu.” Maka, hari raya bukanlah semata pakaian baru, melainkan jiwa yang baru.

Perspektif Tauhid

Dari sudut pandang tauhid, Idul Fitri adalah penegasan akan keesaan Allah dan penyerahan total hamba kepada-Nya. Kalimat takbir yang dikumandangkan adalah bentuk tahlil, tahmid, dan ta’zim kepada Allah semata:

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Artinya:
Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar dan bagi-Nya segala puji.

Idul Fitri adalah peneguhan kembali ikrar tauhid, seakan-akan kita mengulang janji seperti di awal penciptaan, sebagaimana disebut dalam ayat:

أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ شَهِدْنَا

Artinya:
Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.QS. Al-A'raf: 172

Perspektif Komunikasi Islam

Idul Fitri mengajarkan komunikasi Islam yang luhur. Umat Islam diajarkan untuk menjalin silaturahmi, memaafkan, dan mengucapkan salam serta do'a yang penuh makna.

وَقُولُوا۟ لِلنَّاسِ حُسْنًۭا

Artinya: Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia. QS. Al-Baqarah: 83

Komunikasi pada momen ini adalah komunikasi bil hikmah, yang tidak hanya menyampaikan pesan lahiriah, tetapi juga mempertautkan hati. Kalimat "Taqabbalallahu minna wa minkum" adalah komunikasi qalbiyah yang menghidupkan ukhuwah.

Kesimpulan

Risalah Idul Fitri bukan hanya rangkaian ritual, tetapi merupakan tarbiyah syamilah (pendidikan yang menyeluruh) bagi umat Islam agar mengamalkan:

Tarikh: Memahami sejarah yang meneguhkan aqidah. Fiqh: Melaksanakan syariat dengan benar. Tasawuf: Menyucikan hati dan memperindah akhlak. Tauhid: Meneguhkan keesaan Allah dalam seluruh aspek kehidupan. Komunikasi Islam: Menjalin silaturahmi, menyampaikan pesan kasih sayang dan kedamaian.

Semoga Risalah Idul Fitri ini menjadi pengantar bagi kita untuk kembali kepada fitrah, memperkuat tauhid, memantapkan ibadah, memperindah akhlak, dan mempererat tali persaudaraan.

اللهم اجعلنا من العائدين الفائزين، وتقبل منا صيامنا وقيامنا، واجعلنا من عبادك الصالحين

Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

Selamat Menyambut Hari Raya
Idul Fitri 1 Syawal1446 H
مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ، تَقَبَّلَ اللّٰهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
وَمَعَاذِرٌ عَلَى كُلِّ خَطَإٍ ظَاهِرٍ وَبَاطِنٍ

صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّد صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Posting Komentar

0 Komentar