Header Ads Widget


 

Asta Cita dalam Perspektif Tasawuf: Strategi Komunikasi Moderasi, Kurikulum Cinta, dan Harmoni Global



Keterangan Foto: Tuan M Yoserizal Saragih, M.I.Kom Wadek 3 FIS UIN Sumut bersama Keluarga Besar SAPMA Pemuda Pancasila UIN Sumut

بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Asta Cita dalam Perspektif Tasawuf: Strategi Komunikasi Moderasi, Kurikulum Cinta, dan Harmoni Global
Oleh : Tuan M Yoserizal Saragih

Dalam menghadapi dinamika global, konsep Asta Cita yang dicanangkan sebagai visi pembangunan nasional memerlukan pendekatan holistik, termasuk dari perspektif tasawuf. Sebagai dimensi esoteris Islam, tasawuf tidak hanya membentuk kepribadian individu, tetapi juga memiliki peran strategis dalam membangun komunikasi moderasi, menanamkan kurikulum cinta, dan menciptakan harmoni global.

Konsep tasawuf menekankan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) yang berimplikasi pada terbentuknya individu yang memiliki keseimbangan antara spiritualitas dan rasionalitas. Nilai-nilai ini menjadi krusial dalam menyelaraskan Asta Cita dengan visi Islam yang damai, moderat, dan inklusif.

Strategi Komunikasi Moderasi dalam Perspektif Tasawuf

Moderasi Islam (wasathiyah) menjadi prinsip utama dalam Islam yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ dan para ulama muktabar. Dalam konteks tasawuf, komunikasi berbasis moderasi mencakup tiga aspek:

Komunikasi Empatik: Prinsip kasih sayang dan kelembutan dalam berdakwah sebagaimana diperintahkan dalam Al-Qur'an:
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ
Artinya : Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang lebih baik." (QS. An-Nahl :125)

Komunikasi Hikmah: Menekankan kebijaksanaan dalam menyampaikan ajaran Islam agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dan perpecahan.

Komunikasi Transformasional: Berdasarkan ajaran para ulama tasawuf, komunikasi harus berorientasi pada perubahan hati manusia menuju akhlak yang lebih luhur.

Pendekatan ini sejalan dengan fatwa ulama muktabar, seperti Imam Al-Ghazali dalam "Ihya' Ulumuddin" (Jilid 3, Tahun 1096 M) yang menegaskan:
"Seorang sufi harus menyampaikan kebenaran dengan cara yang penuh kelembutan, karena hati manusia mudah terguncang oleh kata-kata yang kasar.

Kurikulum Cinta dalam Tasawuf: Fondasi Etika Pendidikan Spiritual

Tasawuf mengajarkan bahwa cinta (mahabbah) adalah inti dari hubungan manusia dengan Allah dan sesama. Oleh karena itu, kurikulum berbasis tasawuf harus memasukkan unsur cinta sebagai metode pendidikan yang berorientasi pada tiga aspek utama:

Cinta kepada Allah (Mahabbah Ilahiyyah): Sebagaimana difirmankan dalam Al-Qur'an:
وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَشَدُّ حُبًّا لِّلّٰهِ
Artinya : Dan orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah." (QS. Al-Baqarah [2]: 165)

Cinta kepada Sesama (Mahabbah Insaniyyah): Konsep ini diajarkan dalam hadis Rasulullah ﷺ:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
Artinya : Tidak beriman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri." (HR. Bukhari & Muslim)

Cinta kepada Alam (Mahabbah Kauniyyah): Islam mengajarkan keseimbangan dalam menjaga alam sebagai bentuk rahmatan lil ‘alamin, sebagaimana disebutkan dalam tafsir Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam "Mafatih al-Ghaib" (Jilid 5, Tahun 1209 M) bahwa "kerusakan di bumi terjadi ketika manusia tidak memahami bahwa alam adalah amanah yang harus dijaga dengan cinta dan tanggung jawab.

Harmoni Global: Tasawuf sebagai Jembatan Peradaban

Harmoni global dapat dicapai melalui pendekatan tasawuf yang menekankan kesatuan dalam keberagaman. Dalam sejarah Islam, para sufi memiliki peran besar dalam membangun peradaban yang harmonis, seperti yang dicontohkan oleh Sultan Salahuddin Al-Ayyubi dalam menjalin hubungan kasih sayang pada pemeluk agama lainnya.

Tasawuf menawarkan tiga prinsip utama dalam membangun harmoni global:

Tasamuh (Toleransi): Sebagaimana diajarkan oleh Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam "Al-Ghunyah" (Jilid 2, Tahun 1166 M), "Perbedaan agama bukan alasan untuk saling bermusuhan, tetapi ujian bagi kita untuk menumbuhkan kasih sayang."

Sulh (Perdamaian Aktif): Berdasarkan prinsip bahwa Islam adalah agama damai, sebagaimana firman Allah:
وَاِنْ جَنَحُوْا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ
"Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah." (QS. Al-Anfal [8]: 61)

Ukhuwah Insaniyyah (Persaudaraan Kemanusiaan): Ajaran tasawuf menekankan pentingnya ukhuwah dalam skala global. Imam Ibn 'Arabi dalam "Fusus al-Hikam" (Tahun 1238 M) menyatakan bahwa "Cahaya Tuhan terpancar pada setiap manusia, sehingga tidak ada alasan bagi kita untuk membenci sesama.

Kesimpulan

Konsep Asta Cita dalam Perspektif Tasawuf menjadi landasan strategis dalam membangun peradaban Islam yang inklusif, moderat, dan berlandaskan cinta. Strategi komunikasi moderasi, kurikulum cinta, dan harmoni global merupakan tiga pilar utama yang dapat mengintegrasikan nilai-nilai tasawuf dalam implementasi Asta Cita.

Dari pendekatan ini, dapat dipahami bahwa:

1. Tasawuf menawarkan strategi komunikasi berbasis moderasi dan empati, sebagaimana diajarkan dalam Al-Qur’an dan hadis.
2. Kurikulum cinta menjadi fondasi pendidikan karakter, dengan menanamkan mahabbah kepada Allah, sesama manusia, dan alam.
3. Harmoni global dapat dicapai melalui prinsip tasawuf seperti tasamuh, sulh, dan ukhuwah insaniyyah, sebagaimana dicontohkan oleh para ulama muktabar.

Implementasi nilai-nilai ini dalam kebijakan nasional akan memperkuat Indonesia sebagai pusat peradaban Islam yang berorientasi pada rahmatan lil ‘alamin, sejalan dengan visi Presiden RI Almukaram Prabowo Subianto dan Wakil Presiden RI Almukaram Gibran Rakabuming Raka dan Menteri Agama RI Almukaram Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA dalam membangun bangsa yang moderat, religius, dan berkeadaban.

Gema Semesta Nuzulul Al Qur'an
Penulis adalah Wakil Dekan 3 FIS UIN Sumut

صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّد صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Posting Komentar

0 Komentar