![]() |
Tuan M Yoserizal Saragih, M.I.Kom Wadek 3 FIS UIN Sumut Bersama Fathi Farich Hsb (Ketua PC IPNU Kota Medan) MHD Haikal Ardi (Sekretaris PC IPNU Kota Medan) |
بِسْÙ…ِ ٱللَّٰÙ‡ِ ٱلرَّØْÙ…َٰÙ†ِ ٱلرَّØِيمِ
Digitalisasi Bahasa Nusantara: Strategi Nasional Menyelamatkan Warisan Linguistik Indonesia
Oleh : Tuan M Yoserizal Saragih, M.I.Kom
(Refleksi Peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional)
Bahasa adalah urat nadi peradaban, lebih dari sekadar alat komunikasi. Ia merupakan warisan budaya, penyimpan kearifan lokal, dan perekat jati diri suatu bangsa. Indonesia, dengan lebih dari 700 bahasa daerah, kini berada di persimpangan sejarah: antara mempertahankan kekayaan linguistiknya atau membiarkannya sirna di bawah tekanan modernisasi.
Krisis Kepunahan Bahasa Daerah di Indonesia
Realitas saat ini sangat mengkhawatirkan. Berdasarkan data Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (BPPB) Kemendikbudristek per Oktober 2024, dari 718 bahasa daerah yang teridentifikasi, 5 telah punah, 8 dalam kategori kritis, dan 26 terancam punah. Bahasa Tandia di Papua Barat menjadi contoh nyata yang telah punah setelah dua penutur terakhirnya meninggal pada tahun 2001 dan 2002. Jika kondisi ini terus berlanjut, Indonesia berisiko kehilangan sebagian besar kekayaan bahasanya dalam beberapa dekade ke depan.
Digitalisasi sebagai Upaya Pelestarian
Fenomena kepunahan bahasa bukanlah mitos. UNESCO melaporkan bahwa setiap dua minggu, satu bahasa di dunia menghilang, membawa serta seluruh warisan lisan yang dikandungnya. Indonesia tidak kebal terhadap tren ini. Digitalisasi bahasa daerah muncul sebagai solusi strategis untuk menghadapi tantangan ini. Namun, upaya ini tidak boleh berhenti pada tahap dokumentasi semata. Diperlukan ekosistem digital yang memungkinkan bahasa daerah tetap hidup, dipelajari, dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Strategi Implementasi Digitalisasi Bahasa Daerah
1. Indeks Vitalitas Bahasa Nusantara (IVBN): Mengukur Kesehatan Linguistik
Pemerintah perlu membangun Indeks Vitalitas Bahasa Nusantara (IVBN) untuk mengklasifikasikan bahasa daerah berdasarkan tingkat ancaman kepunahannya:
- Bahasa Sehat: Masih digunakan lintas generasi dalam kehidupan sehari-hari.
- Bahasa Terancam: Dituturkan oleh generasi tua, tetapi mulai ditinggalkan oleh anak muda.
- Bahasa Kritis: Hanya tersisa sedikit penutur, kurang dari 100 orang.
- Bahasa Punah: Tidak ada lagi penutur asli yang menggunakannya secara aktif.
Data ini harus dihubungkan dengan peta digital berbasis AI dan GIS, sehingga dapat mengidentifikasi wilayah yang membutuhkan intervensi kebijakan paling mendesak.
2. AI dan NLP: Menciptakan Mesin Pelindung Bahasa
Digitalisasi tidak boleh berhenti pada tahap arsip statis. Artificial Intelligence (AI) dan Natural Language Processing (NLP) harus menjadi tulang punggung program ini, dengan pengembangan:
Speech Recognition & Text-to-Speech: Sistem pengenalan suara berbasis bahasa daerah agar bisa direproduksi secara digital.
AI Linguistic Simulator: Model kecerdasan buatan yang mampu memahami dan mensimulasikan dialek bahasa daerah dalam berbagai konteks.
Chatbot Berbasis Bahasa Daerah: Membantu generasi muda belajar bahasa ibu mereka dengan cara interaktif.
Jika Google dan OpenAI telah mengembangkan AI berbasis bahasa global, mengapa Indonesia tidak menciptakan AI Linguistik Nusantara untuk menjaga bahasa daerahnya sendiri?
3. Blockchain Linguistik: Menjaga Keaslian Bahasa dari Distorsi.
Salah satu risiko terbesar dalam digitalisasi adalah terjadinya distorsi linguistik dan hilangnya aksara tradisional. Untuk itu, bahasa daerah harus diarsipkan dalam sistem blockchain, sehingga keasliannya dapat terjaga secara permanen.
Smart Contracts Linguistik: Memberikan hak digital bagi komunitas adat atas bahasa mereka sendiri.
Decentralized Linguistic Archive (DLA): Arsip bahasa berbasis blockchain yang tidak dapat dimanipulasi atau dihapus.
Digital Heritage Certification: Menjaga agar bahasa daerah tidak diklaim atau dimanipulasi oleh pihak luar.
Langkah ini tidak hanya melindungi bahasa dari kepunahan, tetapi juga memastikan keasliannya tetap terjaga untuk generasi mendatang.
Dari Wacana ke Implementasi: Sinergi Multi-Sektor adalah Kunci
1. Pemerintah sebagai Arsitek Kebijakan
Pemerintah harus membentuk Badan Nasional Digitalisasi Bahasa Nusantara, yang memiliki anggaran khusus dan mandat hukum.
- Kemendikbudristek: Kurikulum pendidikan berbasis bahasa ibu.
- Kominfo: Infrastruktur digital untuk dokumentasi dan pemanfaatan AI.
- Kemenparekraf: Menghidupkan bahasa daerah dalam industri kreatif.
- Kemendagri: Mewajibkan pemerintah daerah untuk mempertahankan penggunaan bahasa daerah.
Tanpa keterlibatan negara, proyek ini hanya akan menjadi dokumen strategis tanpa dampak nyata.
2. Kemitraan Global: Menggandeng Teknologi dan Akademisi Dunia.
Indonesia tidak bisa berjalan sendiri dalam proyek ini. Kita membutuhkan kemitraan global dengan lembaga dan perusahaan teknologi dunia.
UNESCO: Pendanaan dan pendampingan dalam konservasi bahasa.
Google AI & OpenAI: Teknologi NLP dan machine learning untuk bahasa daerah.
Universitas Internasional (Harvard, MIT, Tokyo University): Riset dan pengembangan model linguistik digital.
Proyek ini bukan hanya untuk kepentingan Indonesia. Ini adalah sumbangsih global dalam menjaga keberagaman linguistik dunia.
Relevansi dengan Asta Cita Presiden RI / Wakil Presiden RI
Misi Digitalisasi Bahasa Nusantara sejalan dengan Asta Cita Presiden RI Almukaram Bapak Jenderal (Hor) Purn. H. Prabowo Subianto dan Wakil Presiden RI Almukaram Bapak Gibran Rakabuming Raka:
Poin 1 - Memperkuat Jati Diri Bangsa: Bahasa daerah adalah identitas nasional yang harus dipertahankan.
Poin 2 - Meningkatkan Kualitas SDM: Bahasa ibu terbukti mempercepat pembelajaran dan meningkatkan kecerdasan linguistik anak.
Poin 3 - Revolusi Teknologi Nasional: Digitalisasi berbasis AI dan blockchain untuk pelestarian budaya.
Jika visi ini diwujudkan, Indonesia bisa menjadi pemimpin dunia dalam digitalisasi bahasa daerah.
Kesimpulan: Jika Bukan Sekarang, Kapan Lagi?
Bahasa adalah harga diri bangsa. Jika kita membiarkan bahasa daerah lenyap, kita kehilangan sejarah, identitas, dan warisan intelektual Nusantara.
Digitalisasi bahasa bukan sekadar proyek akademik. Ini adalah gerakan nasional. Dengan AI, blockchain, dan keterlibatan multi-sektor, kita bisa memastikan bahwa bahasa daerah tetap hidup, berkembang, dan diwariskan kepada generasi mendatang.
(Penguatan semangat UIN Sumatera Utara "UNGGUL" menuju Internasionalisasi)
صَÙ„َّÙ‰ اللهُ عَÙ„َÙ‰ Ù…ُØَÙ…َّد صَÙ„َّÙ‰ اللهُ عَÙ„َÙŠْÙ‡ِ ÙˆَسَÙ„َّÙ…َ
0 Komentar